Selasa, 09 April 2013

MOTIVASI DAN ETOS KERJA KEPENDIDIKAN ISLAM




MAKALAH
MANAJEMEN PENDIDIKAN
Tentang
MOTIVASI DAN ETOS KERJA KEPENDIDIKAN ISLAM




Oleh:
KHAZINUL ASRIATI
NIM. 12042021237




Dosen pembimbing :
Prof.Dr. Asnawir

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI)
PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
PENGEMBANGAN ILMU AL QUR’AN (STAI-PIQ)
SUMATRA BARAT
1434 H/2013 M

MOTIVASI DAN ETOS KERJA KEPENDIDIKAN ISLAM

A.  Pendahuluan
Sudah merupakan opini umum bahwa permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional di antaranya melalui pengadaan buku dan alat pelajaran, berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, perbaikan dan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian dilihat dari berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang adil (equity) dan merata (equality).
Pendidikan diharapkan dapat membentuk manusia yang berkualitas yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Paradigma nasional Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 menjadi landasan dalam konsepsi dan pola pikir pengembangan kebijakan dan program pembangunan pendidikan nasional. Selain itu UU Sisdiknas, UU BHP, UU Guru dan Dosen, PP, Permen dan Perda menjadi landasan yuridisnya.
Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.
Salah satu faktor penentu dalam menunjang keberhasilan peningkatan mutu pendidikan adalah guru (pendidik). Guru merupakan sumber daya manusia yang berada di front paling depan tempat saat terjadinya interaksi belajar mengajar. Hal itu mengandung makna bahwa upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari guru dan tenaga kependidikan lainnya. Dalam mengoptimalkan kinerja mengajar guru yakni dalam rangka melaksanakan tugas dan pekerjaannya, maka kepala sekolah yang berkualitas harus mampu mempengaruhi, menggerakkan, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintahkan, melarang, dan bahkan memberikan sanksi, serta membina dalam rangka mencapai kinerja sekolah secara efektif dan efisien. Melalui peningkatan kinerja mengajar guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, diharapkan prestasi kerja guru dapat mencapai hasil yang optimal.
Namun, hal tersebut tidak akan terealisasi jika tanpa adanya motivasi dan etos kerja dalam melaksanakan tugas dan kewajibanya dari masing-masing elemen-elemen pendidikan
Berikut akan dipaparkan mengenai motivasi dan etos kerja kependidikan Islam yang meliputi hakikat motivasi, beberapa teori motivasi, beberapa bentuk motivasi dalam pendidikan Islam, hakikat etos kerja serta fungsi motivasi dalam meningkatkan etos kerja dalam pengelolaan pendidikan Islam.

B.  Pembahasan
1.    Hakikat Motivasi
Motif atau motivasi berasal dari kata Latin "moreve" yang berarti dorongan dari dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku. Pengertian motivasi tidak terlepas dari kata "needs" atau "want". Needs adalah suatu potensi dari dalam diri manusia yang perlu ditanggapi atau direspons.
Tanggapan terhadap kebutuhan tersebut diwujudkan dalam bentuk tindakan untuk pemenuhan kebutuhan tersebut dan hasilnya adalah orang yang bersangkutan merasa atau menjadi puas. Apabila kebutuhan tersebut belum direspons maka akan selalu berpotensi untuk muncul kembali sampai dengan terpenuhinya kebutuhan yang dimaksud.[1]
         Beragam batasan pengertian tentang motivasi menurut para ahli, di antaranya adalah:
a.    Menurut Sardiman A.M, motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melaksanakan sesuatu, dan bila tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Dalam pendidikan motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan gaya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.[2]
b.    Menurut Mc. Donald yang disadur oleh Oemar Hamalik mendefinisian motivasi dengan "perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.[3]
Dari definisi tersebut  terdapat tiga unsur yang saling terkait, yaitu:
1.    Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi
2.    Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan
3.    Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan[4]
c.       Dalam konteks pengembangan organisasi, Flippo merumuskan bahwa motivasi adalah sutau arahan pegawai dalam suatu organisasi agar mau bekerja sama dalam mencapai keinginan para pegawai dalam rangka pencapaian keberhasilan organisasi. 
d.      Dalam konteks yang sama, Duncan mengemukakan bahwa motivasi adalah setiap usaha yang didasarkan untuk mempengaruhi perilaku seseorang dalam meningkatkan tujuan organisasi semaksimal mungkin.
e.       Berbeda dengan Hasibuan yang merumuskan bahwa motivasi adalah suatu perangsang keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi pada dasarnya adalah daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang yang menjadi pendorong dalam mencapai suatu tujuan tertentu.
2.    Beberapa Teori Motivasi
Banyak para ahli dari berbagai disiplin ilmu merumuskan konsep atau teori tentang motivasi. Di antara banyak konsep tentang motivasi dari berbagai ahli tersebut, berikut beberapa teori tentang motivasi di antaranya:
a.    Teori Hedonisme
Hedonisme adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan, atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran di dalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan yang bersifat duniawi. Pada abad ketujuh belas, Hobbes menyatakan bahwa apapun alasannya yang diberikan seseorang untuk perilakunya, sebab-sebab terpendam dari semua perilaku adalah kecendrungan untuk mencari kesenangan dan menghindari kesusahan.
Oleh karenanya, setiap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memilih alternatif pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan dari pada yang mengakibatkan kesukaran, kesulitan, dan penderitaan. Implikasi dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang cenderung menghindari hal-hal yang menyulitkan dan lebih menyukai melakukan perbuatan yang mendatangkan kesenangan. 
b.    Teori Naluri
Teori ini merupakan bagian terpenting dari pandangan mekanisme terhadap manusia. Naluri merupakan suatu kekuatan biologis bawaan, yang mempengaruhi anggota tubuh untuk berlaku dengan cara tertentu dalam keadaan tepat. Sehingga semua pemikiran dan perilaku manusia merupakan hasil dari naluri yang diwariskan dan tidak ada hubungannya dengan akal.
Menurut teori naluri, seseorang tidak memilih tujuan dan perbuatan, akan tetapi dikuasai oleh kekuatan-kekuatan bawaan, yang menentukan tujuan dan perbuatan yang akan dilakukan. Freud juga percaya bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang tanpa disadari menentukan setiap sikap dan perilakau manusia.
c.    Teori Reaksi yang Dipelajari
Teori ini berbeda pandangan dengan tindakan atau perilaku manusia yang berdasarkan naluri-naluri, tetapi berdasarkan pola dan tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan di tempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan di tempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan. Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin atau pendidik itu hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya.

d.   Teori Pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara "teori naluri" dengan "teori reaksi yang dipelajari." Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya sesuatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum.[5]

e.    Teori Maslow
Maslow seorang ahli psikologi telah mengembangkan teori motivasi ini sejak tahun 1943. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Di atas perincian kebutuhan akan udara, udara, makanan, dan seks, dia menempatkan lima lapisan kebutuhan yang lebih luas yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan rindu, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri.[6]
Teori Maslow telah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam usaha memperhatikan kebutuhan-kebutuhan tingkat rendah yang sebelumnya mungkin di abaikan dalam sementara organisasi, dan karena tidak adanya pemuasan kebutuhan-kebutuhan ini, kebutuhan yang lebih tingkatnya tidak akan berfungsi.[7]
3.    Beberapa Bentuk Motivasi Dalam Pendidikan Islam
Para ahli mengklasifikasikan bentuk-bentuk motivasi ke dalam beberapa bentuk, di antaranya adalah:
a.    Motivasi Tradisonal
Bentuk motivasi ini menekankan bahwa untuk memotivasi bawahan agar mereka meningkatkan kinerjanya, perlu pemberian isentif yang tentunya diberikan kepada yang berprestasi tinggi atau kinerja baik. Karyawan yang mempunyai prerstasi makin baik, maka makin banyak atau makin sering karyawan tersebut mendapat insentif.
Hal ini juga dapat dilihat dari janji Allah terhadap para syuhada dalam al-Qur'an surat at-Taubah ayat 111:
¨bÎ) ©!$# 3uŽtIô©$# šÆÏB šúüÏZÏB÷sßJø9$# óOßg|¡àÿRr& Nçlm;ºuqøBr&ur  cr'Î/ ÞOßgs9 sp¨Yyfø9$# 4 šcqè=ÏG»s)ムÎû È@Î6y «!$# tbqè=çGø)uŠsù šcqè=tFø)ãƒur ( #´ôãur Ïmøn=tã $y)ym Îû Ïp1uöq­G9$# È@ÅgUM}$#ur Éb#uäöà)ø9$#ur 4 ô`tBur 4nû÷rr& ¾ÍnÏôgyèÎ/ šÆÏB «!$# 4 (#rçŽÅ³ö6tFó$$sù ãNä3Ïèøu;Î/ Ï%©!$# Läê÷ètƒ$t/ ¾ÏmÎ/ 4 šÏ9ºsŒur uqèd ãöqxÿø9$# ÞOŠÏàyèø9$#                

Artinya: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari pada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. at-Taubah: 111).
Dalam UU pun di atur tentang pemberian insentif kepada pendidik yang berprestasi dalam bidangnya, hal ini terdapat dalam UU Sisdiknas Bab XI tentang pendidik dan tenaga kependidikan pasal 40 ayat (1) yaitu pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh:
1)   Penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai
2)   Penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja
Serta pasal 43 ayat (1), yang menyatakan bahwa promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan, dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan.[8]
b.    Model Hubungan Manusia
Model ini menekankan bahwa untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan, perlu dilakukan pengakuan atau memperhatikan kebutuhan sosial mereka, meyakinkan kepada setiap karyawan bahwa setiap karyawan adalah penting dan berguna bagi organisasi. Oleh sebab itu, model ini lebih menekankan memberikan kebebasan berpendapat, berkreasi, dan berorganisasi, dan sebagainya bagi setiap karyawan, ketimbang memberikan insentif materi.
c.    Model SDM
Menurut model ini setiap manusia cenderung untuk mencapai kepuasan dari prestasi yang dicapai, dan prestasi yang baik tersebut merupakan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Oleh sebab itu, menurut model sumber daya manusia ini, untuk meningkatkan motivasi karyawan, perlu memberikan tanggung jawab dan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mereka. Motivasi dan gairah kerja karyawan akan meningkat jika kepada mereka diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Memberikan reward dan punishment oleh atasan kepada bawahan juga dapat dipandang sebagai upaya peningkatan motivasi kerja.
Dipandang dari segi ini maka motivasi dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
1)   Insentif positif
Bentuk motivasi ini adalah dengan memberikan reward kepada bawahan yang berprestasi atau kinerjanya baik. Dengan reward yang diberikan ini akan meningkatkan semangat kerja para karyawan, yang akhirnya akan memacu kinerja mereka lebih meningkat.
2)   Insentif negatif
Menurut bentuk ini pimpinan memberikan punishment kepada bawahan yang kurang berprestasi atau kinerjanya rendah.[9]
Kedua jenis motivasi tersebut di atas dalam praktiknya dapat diterapkan oleh pimpinan pendidikan, tetapi harus tepat dan seimbang, agar dapat meningkatkan semangat kerja karyawan. Untuk memperoleh efek untuk jangka panjang, maka motivasi positiflah yang lebih tepat digunakan, sedangkan insentif negatif hanya cocok untuk meningkatkan motivasi jangka pendek saja. 
Bentuk motivasi seperti di atas dapat dilihat dalam UU Sisdiknas Bab XI tentang pendidik dan tenaga kependidikan pasal 40 ayat (2) yaitu pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:
1)   Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis
2)   Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan,
3)   Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.[10]
4.    Hakikat Etos Kerja
Etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinana akan sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oeh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta sistem nilai yang diyakininya.[11] Dalam etos tersebut, ada semacam semangat untuk menyempurnakan segala sesuatu dan menghindari segala kerusakan sehingga setiap pekerjaannya diarahkan untuk mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali cacat dari hasil pekerjaannya. Akibatnya, seorang muslim yang memiliki keprbadian qur'ani pastilah akan menunjukkan etos kerja yang bersikap dan berbuat serta menghasilkan segala sesuatu secara sangat bersungguh-sungguh dan tidak pernah mengerjakan sesuatu setengah hati.
Dengan etos kerja yang bersumber dari keyakinan qur'ani, ada semacam keterpanggilan yang sangat kuat dari lubuk hatinya, karena ia bekerja atas dasar ketulusan kepada Allah SWT. Ketulusan kepada Allah SWT dapat diartikan dengan harapan terhadap ganjaran dari Allah SWT, merupakan faktor utama yang mendorong seseorang untuk bekerja. Karena itu bekerja tetap didasarkan pada nilai-nilai keimanan kepada Allah SWT dan inilah investasi besar umat Islam.[12] Islam mengakui pentingnya materi tetapi bukan penganut materialisme. Dengan kata lain materi bukan merupakan tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan.
Di samping itu Allah juga memerintahkan manusia agar berbuat yang terbaik dan bekerja dengan sebaik-baiknya yang disebut juga dengan ihsan, sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur'an surat al-Qashash ayat 77:
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ
Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. al-Qashash: 77).
Jadi, perintah untuk berbuat ihsan mendorong seseorang agar bekerja secara profesional dan dengan etos kerja yang tinggi. Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan etos kerja adalah totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, da memberikan makna terhadap sesuatu yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal. 
5.    Fungsi Motivasi dalam Meningkatkan Etos Kerja dalam Pengelolaan Pendidikan Islam
Keberhasilan dalam pengelolaan pendidikan Islam atau suatu institusi atau organisasi ditentukan oleh dua faktor utama yakni SDM dan fasilitas kerja. Dari kedua faktor utama tersebut SDM lebih penting daripada sarana dan prasarana pendukung. Secanggih dan selengkap apapun fasilitas pendukung yang dimiliki suatu organisasi kerja, tanpa adanya sumber daya yang memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya, maka niscaya organisasi tersebut tidak dapat berhasil mewujudkan visi, misi, dan tujuan organisasinya. Kualitas SDM diukur dari performancenya.
Menurut Gibson maupun Stoner yang disadur oleh Soekidjo berpendapat bahwa motivasi adalah merupakan faktor yang berpengaruh dalam meningkatkan etos kerja dalam pengelolaan pendidikan Islam khususnya. Oleh sebab itu, dalam rangka upaya meningkatkan etos kerja, maka intervensi terhadap motivasi sangat penting dan dianjurkan.[13] Di antara fungsi motivasi dalam meningkatkan etos kerja dalam pengelolaan pendidikan Islam adalah:
a.    Mendorong gairah dan semangat kerja pegawai atau karyawan.
Dalam hal ini Allah pun memotivasi hamba-Nya untuk bekerja yang terdapat dalam al-Qura'an surat at-Taubah ayat 105:
È@è%ur (#qè=yJôã$# uŽz|¡sù ª!$# ö/ä3n=uHxå ¼ã&è!qßuur tbqãZÏB÷sßJø9$#ur ( šcrŠuŽäIyur 4n<Î) ÉOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»pk¤9$#ur /ä3ã¥Îm7t^ãsù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÉÎÈ
Artinya: "Dan katakanlah, "bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kam apa yang telah kamu kerjakan." (QS. at-Taubah: 105).
b.      Menentukan arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.[14]
c.       Meningkatkan kepuasan kerja karyawan, yang akhirnya akan meningkatkan etos kerjanya.
d.      Meningkatkan produktivitasnya.
e.       Meningkatkan kedisiplinan SDM.
f.       Meningkatkan kehadiran kerja karyawan.
C.  Penutup
1.      Kesimpulan
Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan etos kerja dalam pengelolaan pendidikan Islam. Etos kerja adalah suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau satu umat terhadap kerja. Jika pandangan dan sikap itu melihat kerja sebagai suatu hal yang luhur untuk eksistensi manusia, maka etos kerja itu akan tinggi. Sebaliknya kalau etos kerja melihat kerja sebagai suatu hal yang tidak berarti untuk kehidupan manusia, apalagi kalau sama sekali tidak ada pandangan dan sikap terhadap kerja, maka etos kerja itu dengan sendirinya rendah. Oleh sebab itu untuk menimbulkan pandangan dan sikap menghargai kerja sebagai sesuatu yang luhur diperlukan motivasi. Jadi, dapat diketahui bahwa motivasi memberikan kontribusi dalam meningkatkan etos kerja terutama dalam pengelolaan pendidikan Islam.
2.    Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami merasa masih ada terdapat kesalahan baik dalam penyusunan maupun dalam pemakaian bahasa kami mohon sarannya agar dapat dijadikan pelajaran untuk masa- masa yang akan datang.















DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar (Dalam Perspektif Islam), Jakarta: Kencana, 2004
            Martinis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007),
                        , Paradigma Pendidikan Konstruktivistik: Implementasi KTSP & UU No. 14 Tahun 205 Tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Gaung Persada Press, 2008
Nasrul, Pendidikan Agama Islam Bernuansa Soft Skills Untuk Perguruan Tinggi Umum, Padang: UNP Press, 2011
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Bandung: Bumi Aksara, 2001
Soekidjo Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2009
Sardiman,Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006
Sobri Sutikno, Belajar dan Pembelajaran (Upaya Kreatif dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil), Bandung: Prospect, 2009
Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, Jakarta:Gema Insani, 2002
Udai Pareek, Perilaku Keorganisasian, Jakarta: Anggota IKAPI, 1996
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2010 Tentang Penyenggaraan Pendidikan Serta Wajib Belajar, Bandung: Citra Umbara, 2010
 



[1] Soekidjo Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 114
[2] Sardiman,Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,(Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006), h. 75
[3] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2001), h. 158
[4] Martinis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), h. 217
[5] Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar (Dalam Perspektif Islam), (Jakarta: Kencana, 2004), h. 133-135
[6] Martinis Yamin, Paradigma Pendidikan Konstruktivistik: Implementasi KTSP & UU No. 14 Tahun 205 Tentang Guru dan Dosen, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), h. 98
[7] Udai Pareek, Perilaku Keorganisasian, (Jakarta: Anggota IKAPI, 1996), h. 111
[8] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2010 Tentang Penyenggaraan Pendidikan Serta Wajib Belajar, (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 21-23
[9] Soekidjo Notoatmodjo, Op. Cit., h. 131 
[10] Undang-Undang Republik Indonesia, Op. Cit., h. 22
[11] Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, (Jakarta:Gema Insani, 2002), h. 15
[12] Nasrul, Pendidikan Agama Islam Bernuansa Soft Skills Untuk Perguruan Tinggi Umum, (Padang: UNP Press, 2011), h. 206
[13] Soekidjo Notoatmodjo, Op. Cit., h. 125
[14] Sobri Sutikno, Belajar dan Pembelajaran ( Upaya Kreatif dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil), (Bandung: Prospect, 2009), h. 73

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar