Rabu, 20 Maret 2013

MOBILITAS SOSIAL DAN DETERMINASI KEBUDAYAAN DALAM PENDIDIKAN


TUGAS
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Tentang
MOBILITAS SOSIAL DAN DETERMINASI KEBUDAYAAN DALAM PENDIDIKAN






Oleh :
KHAZINUL ASRIATI


Dosen Pembimbing :
Dr. Zaimuddin

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (MPI)
PROGRAM PASCA SARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PENGEMBANGAN ILMU ALQUR’AN (STAI-PIQ)
SUMATRA BARAT
1434 H/2012 M

MOBILITAS SOSIAL DAN DETERMINASI KEBUDAYAAN DALAM PENDIDIKAN
A.  PENDAHULUAN
Pada dasarnya setiap warga dalam suatu masyarakat mempunyai kesempatan untuk menaikan kelas sosial mereka dalam struktur sosial masyarakat yang bersangkutan. Termasuk dalam masyarakat yang menganut sistem pelapisan yang tertutup atau kaku. Inilah yang biasa disebut dengan mobilitas sosial. Mobilitas sosial dapat diartikan sebagai suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial yang lainnya.
Masyarakat dengan sistem stratifikasi terbuka memilki tingkat mobilitas yang tinggi dibanding masyarakat dengan sistem stratifikasi sosial yang tertutup. Dalam dunia modern seperti sekarang ini, banyak negara mengupayakan peningkatan mobilitas sosial dalam masyarakatnya, karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Apabila tingkat mobilitas tinggi, meskipun latar belakang sosial individu berbeda, maka mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Apabila tingkat mobilitas sosial rendah, maka tentu saja kebanyakan orang akan terkungkung dalam status para nenek moyang mereka.
Pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Bahkan jenis pekerjaan kasar yang berpenghasilan baik pun sukar diperoleh, kecuali jika seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada banyak dunia usaha dan perusahaan industri, bukan hanya terdapat satu, melainkan dua tangga mobilitas. Yang pertama berakhir pada jabatan mandor, yang lainnya bermula dari kedudukan “program pengembangan eksekutif,” dan berakhir pada kedudukan pimpinan. Menaiki tangga mobilitas yang kedua tanpa ijasah pendidikan tinggi adalah sesuatu hal yang jarang terjadi.
B.  PEMBAHASAN
1.      Mobilitas Sosial dalam Pendidikan
a)   Pengertian
Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial. Yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Proses ini tidak terjadi pada individu saja, tetapi mungkin juga pada kelompok-kelompok orang.[1] Mobilitas sosial adalah sebuah gerakan masyarakat dalam kegiatan menuju perubahan yang lebih baik,[2]
Beberapa para pakar berpendapat tentang mobilitas sosial yaitu :
1)   Henry Clay Smith, berpendapat mobilitas sosial adalah gerak dalam suatu struktur sosial (hubungan antara individu dengan kelompoknya)
2)   Haditono, berpendapat Mobilitas sosial adalah perpindahan seseorang atau sekelompok orang dari kedudukannya ke kedudukan lain. Kedudukan bisa berarti situasi tempat, dapat pula berarti status.[3]
3)   S. Nasution, berpendapat ada dua pengertian mobilitas sosial, yaitu :
·      Bahwa suatu sektor dalam masyarakat secara keseluruhan berubah kedudukannya terhadap sektor yang lain. contohnya, kedudukan seorang guru yang begitu terhormat pada zaman dahulu sudah tidak lagi berada pada posisi yang setinggi itu sekarang
·      Kemungkinan bagi individu untuk pindah dari lapisan sosial yang satu ke lapisan sosial yang lain, yang dapat dilihat, dari lingkungan dimana individu berada.[4]
b)     Jenis Mobilitas Sosial   
P.A Sorikin menjelaskan bahwa mobilitas sosial dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Mobilitas Vertikal, meliputi :
·      Social climbing, dari status yang rendah ke status yang tinggi, dimana status yang tinggi telah ada sebelumnya dan membentu kelompok atas status baru, karena status yang lebih atau belum ada, (promosi), misalnya : kelompok konglomerat, eksekutif, supereksekutif, dan sebagainya.
Lembaga pendidikan seperti sekolah, pada umumnya merupakan saluran mobilitas sosial vertikal. Bahkan sekolah-sekolah dapat dianggap sebagai social elevator yang bergerak dari kedudukan-kedudukan yang paling rendah kepada kedudukan yang paling tinggi.
Kadang-kadang dijumpai keadaan dimana sekolah-sekolah tertentu hanya dapat dimasuki oleh golongan-golongan masyarakat yang tertentu, misalnya dari lapisan atas, atau dari suatu ras tertentu. Sekolah-sekolah yang demikian apabila dimasuki oleh lapisan rendah aka menjadi saluran mobilitas sosial vertikal. Di Indonesia secara relatif dapat ditelaah kedudukan apa yang yang ditempati oleh mereka yang hanya tamat sekolah dasar, sekolah menegah pertama, sekolah lanjutan tingkat atas, perguruan tinggi dan seterusnya, walaupun kenyataan belum menunjukan adanya kedudukan yang sesuai bagi mereka dalam hal-hal tertentu.[5]
·      Social sinking, dari kelompok yang tinggi turun kepada yang rendah, dan derajat kelompoknya turun.
2.    Mobilitas horizontal, yakni apabila perubahan terjadi secara linear, contohnya seorang petani berubah pekerjaannya menjadi seorang buruh pabrik.[6]
Gerak sosial vertikal yang naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu :
·      Masuknya individu yang mempunyai kedudukn rendah kedalam kedudukan yang lebih tinggi, dimana kedudukan tersebut telah ada sebelumnya. Misalnya, seorang berkerja di kantor A dan diangkat menjadi pejabat dikantor B.
·      Pembentukan seorang kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok tersebut. Misalnya : dengan dibentuknya sebuah organisasi, memberi kesempatan kepada seseorang untuk menjadi ketua umum, bertanda yang bersangkutan naik status.
Sementara itu gerak vertikal menurun mempunyai dua bentuk utama, yaitu :
·      Turunya kedudukan individu yang lebih rendah derajatnya, misalnya seorang pejabat dipecat karena korupsi
·      Turunya derajat sekelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai satu kesatuan.[7]
Kenaikan status sosial dianggap baik karena membuktikan keberhasilan usaha seseorang. Kenaikan status dianggap negatif jika dapat membuat seseorang menjadi tegang, angkuh, pamer kekayaan, kegoncangan kehidupan keluarga dengan bertambahnya angka perceraian keluarga. Seharusnya naik status tetap membuat seorang stabil mentalnya dan tetap membuat stabil pribadinya.
Dalam dunia moderen, banyak orang yang berupaya melakukan mobilitas. Mereka yakin bahwa melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda, mereka tetap merasa mempunyai  hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas mereka rendah, tentu saja kebnyakan orang akan terkungkung dalam status nenek moyang mereka, dan mereka akan hidup dalam kelas sosial tertutup. Mobilitas lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat tertutup kemungkinan untuk pindah strata tertutup.[8]
Dalam    masyarakat     manapun     bisa   kita  temui   berbagai golongan  masyarakat  yang  pada  praktiknya  terdapat  perbedaan tingkat antara golongan satu dengan golongan yang lain. Adanya golongan    yang    berlapis-lapis   ini  mengakibatkan  terjadinya stratifikasi sosial baik   itu secara  ketat  ataupun    lebih  bersifat terbuka. Masyarakat yang menganut pelapisan sosial secara ketat  tidak   memungkinkan       adanya     kenaikan    tingkat   bagi   para warganya    secara  mudah.    Sebaliknya,   dalam   masyarakat    yang menganut    pelapisan   sosial  yang   bersifat terbuka   warga   yang  bersangkutan  bisa   dengan    leluasa  naik atau  bahkan   turun  dari tingkat satu ke tingkat lainnya atas dasar faktor-faktor tertentu.
Nasution menyebutkan     ada   tiga metode    yang  bisa digunakan untuk menentukan stratifikasi sosial dalam masyarakat yakni metode objektif, metode subjektif dan metode reputasi.   
1.    Metode Objektif 
Berdasarkan metode ini stratifikasi sosial ditentukan    dengan menggunakan penilaian   objektif  antara  lain  terhadap   jumlah pendapatan, lama atau tinggi pendidikan dan jenis pekerjaan. Pada  dasarnya  kelas  sosial  merupakan  “suatu  cara  hidup”. Diperlukan banyak  sekali uang untuk dapat hidup menurut cara hidup orang   berkelas   atas. Meskipun demikian    jumlah   uang sebanyak    apapun   tidak  menjamin segera  mendapatkan status kelas  sosial  atas.
Jadi  bisa  saja  oarang-orang  “kaya  baru”  walau mereka bisa membeli mobil mewah  dan bisa membangun rumah besar  tidak  serta  merta  dianggap  sebagai  orang  lapisan  atas jika tidak mampu menyesuaikan diri secara mendalam terhadap gaya hidup orang “kaya lama”. Pendapatan yang   diperoleh   dari  investasi  lebih  memiliki pretise  daripada    pendapatan    yang    diperoleh   dari  tunjangan  pengangguran. Pendapatan     yang    diperoleh   dari   pekerjaan profesional  lebih  berfungsi   dalam   sistem  sosial daripada   yang berwujud upah pekerjaan kasar.
Uang yang didapat dari spekulasi penjualan barang-barang yang disimpan lebih baik daripada uang dari hasil perjudian balapan kuda. Sumber  dan jenis penghasilan atau   pendapatan    seseorang   memberi gambaran    tentang   latar belakang keluarga dan kemungkinan cara hidupnya. Jenis   dan   tinggi  rendahnya     pendidikan    mempengaruhi jenjang  kelas  sosial.  Pendidikan  bukan  hanya  sekadar  memberi keterampilan    kerja, tetapi  juga  melahirkan    perubahan    mental, selera, minat, tujuan dan lain-lain.
Pekerjaan merupakan aspek kelas sosial yang penting karena begitu  banyak    segi kehidupan    lainnya   yang  berkaitan   dengan pekerjaan.   Apabila   kita mengetahui    jenis  pekerjaan   seseorang, maka  kita  bisa  menduga  tinggi  rendahnya  pendidikan, standar hidup, teman-teman,  jam  kerja   dan  kebiasaan-kebiasaan sehari- hari keluarga orang itu. Kita bahkan bisa membaca selera bacaan, selera  rekreasi,  standar   moral,   dan   orientasi  keagamaannya. Dengan    kata  lain jenis  pekerjaan  merupakan bagian   dari cara hidup yang sangat berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya.
2.   Metode Subjektif
Dalam metode ini golongan sosial dirumuskan menurut pandangan anggota masyarakat menilai dirinya dalam hierarki kedudukan dalam masyarakat itu. Kebanyakan ahli sosiologi berpandangan bahwa kelas sosial adalah suatu kenyataan, meski- pun orang tidak sepenuhnya menyadari hal itu.
Jika  demikian, apakah   keanggotaan    kelas  sosial seseorang ditentukan   oleh  perasaannya  sendiri  bahwa  ia  termasuk     dalam kelas sosial tertentu. Ataukah ditentukan oleh pendapatan, pendidikan dan pekerjaan yang sebagian besar menentukannya, karena ketiga faktor  itulah  yang menentukan  sebagian  besar  cara hidup seseorang. Walaupun  demikian,  perasaan  identifikasi kelas sosial cukup    penting,  sebab   orang   cenderung    meniru   norma-norma perilaku   kelas  sosial yang   ia anggap    sebagai  kelas  sosialnya.
Beberapa kenyataan membuktikan bahwa orang yang menempat kan diri mereka pada kelas sosial politik yang sama dengan sikap politik kelas sosial itu, bukannya sama dengan sikap politik kelas sosial mereka yang sebenarnya. Identifikasi  diri  atas  kelas  sosial  memberikan beberapa pengaruh  terhadap perilaku  seseorang,  terlepas apakah  ia benar- benar merupakan anggota kelas itu atau bukan.
3.    Metode Reputasi
Dalam    metode   ini  golongan   sosial  dirumuskan     menurut bagaimana    anggota    masyarakat    menempatkan      masing-masing dalam stratifikasi masyarakat itu. Orang diberi kesempatan untuk memilih golongan-golongan masyarakat yang telah teridentifikasi dalam suatu masyarakat.
c)    Saluran dalam Mobilitas Sosial
Ada beberapa macam saluran dalam mobilitas sosial, yaitu :[9]
1.    Angkatan bersenjata
Angkatan bersenjata merupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat.
2.     Lembaga Keagamaan
Lembaga keagamaan dapat meningkatkan status sosial seseorang, status sosial para penyebar agama akan meningkatkan status sosialnya di masyarakat terutama bagi komunitas pengikut agama tertentu
3.    Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan umunya merupakan saluran kongkrit dari mobilitas vertikal keatas, bahkan dianggap sebagai social evaluator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus ia lulus dan menggunakan pengetahuannya untuk berusaha, sehingga ia berhasil menjadi orang yang sukses dan meningkatkan status sosialnya.
4.    Organisasi Politik
Organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan jabatan yang lebih tinggi, sehingga status sosialnya meningkat.
5.    Ekonomi
Organisasi ekonomi, dapat meningkatkan pendapatan seorang. Semakin besar prestasinya, semakin besar jabatannya. Jika jabatannya tinggi maka pendapatan bertambah, karena pendapatan bertambah maka kekayaannya bertambah. Juga karena kekayaan bertambah akibatnya status sosial di masyarakat meningkat. 
6.    Keahlian
Orang yang rajin menulis, menyubangkan ilmu pengetahuan dan yang mempunyai keahliannya kepada kelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi dari pengguna biasa. Sejumlah pemikiran atau ide-ide penting akan bermanfaat bagi para pembaca dan mungkin akan berguna menambah ilmu pengetahuan terkait, atau bahkan ide tersebut dapat menjadi bahan dan inspirasi solusi terhadap suatu permasalahan kehidupan yang sedang dihadapinya.
7.    Perkawinan
Melalui perkawinan seseorang bisa berubah kedudukan atau status sosialnya. Misalnya seorang miskin yang menikah dengan seorang janda kaya dengan sendirinya status pria itu berubah menjadi orang kaya yang dikarenakan istrinya kaya.
d)   Mobilitas Sosial dalam Pendidikan
Seperti yang telah dipaparkan bahwa pendidikan merupakan saluran bagi seorang individu atau kelompok untuk melakukan mobilitas sosial. Pendidikan telah membuka kemungkinan adanya mobilitas sosial. Dengan pendidikan seseorang dapat meningkatkan status sosialnya. Pendidikan secara merata memberikan kesamaan dasar pendidikan dan mengurangi perbedaan antara golongan tinggi dan rendah. Melalui pendidikan, seorang yang tidak bisa membaca jadi bisa membaca surat kabar dan majalah yang sama, bisa memikirkan masalah sosial budaya, politik, agama dan ekonomi yang sama. 
Pendidikan dapat dilihat antara lain, sebagi suatu persiapan bagi struktur perkerjaan dan pendidikan juga bisa memberi peluang-peluang bagi individu untuk meningkatkan status pekerjaannya dibandingkan. Misalnya, dengan status pekerjaan ayahnya. Dalam membandingkan status pekerjaan ayah dan anak ini membuktikan bahwa telah terjadi mobilitas antar generasi.[10]
Terdapat dugaan sebelumnya bahwa bertambah tingginya taraf pendidikan makin besar kemungkinan mobilitas bagi anak-anak golongan rendah dan menengah. Hal ini tidak terlalu benar jika pendidikan itu hanya terbatas pada pendidikan tingkat menengah. Jadi walaupun kewajiban belajar ditingkatkan hingga SMA, belumlah jaminan akan terjadi mobilitas akan meningkat. Pendidikan tinggi/universitas masih dapat memberikan peluang bagi mobilitas sosila, walaupun bagi lulusannya yang berijazah belum ada jaminan akan meingkatkan status sosialnya. Pendidikan tinggi/universitas masih selektif dan tidak semua orang tua yang mampu membiayai studi anak kuliyah di perguruan tinggi.
Sistem seleksi sering kali menggunakan komputerisasi menentukan lulus tidaknya anak didik masuk perguruan tinggi tertama perguruan tinggi negeri, sehingga objektivitasnya terjaga. Lebih dari itu sistem komputerisasi tidak dipengaruhi oleh latar belakang orang tua dengan beragam lapisannya. Hal ini memberi peluang lebih luas bagi anak didik golongan rendah dan menengah untuk memasuki perguruan tinggi/universitas. Mobilitas sosial melalui saluran pendidikan pun tampak terbuka bagi semua lapisan masyarakat.[11]  
e)    Faktor yang Mempengaruhi dan Menghambat Terjadinya Mobilitas Sosial dalam Pendidikan
Faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas sosial dalam pendidikan sama dengan faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas sosial pada umumnya, antara lain:[12]
1.    Perubahan kondisi sosial
Dimana kemajuan teknologi, misalnya memberi peluang kemungkinan timbulnya mobilitas sosial. Penggunaan internet disekolah bukanlah suatu hal yang luar biasa. Di institusi pendidikan, para pendidik dan fasilitas penunjang pembelajaran sudah mulai banyak yang memiliki internet. Perbedaan anak didik dari kalangan berbedn mulai direduksi dan dapat menggunakan internet bersama-sama. Pengetahuan mereka bertambah dan memugkinan mereka untuk berprestasi dan akhirnya status sosial meningkat pula, katakanlah sebagai anak didik cerdas yang berasal dari kalangan keluarga kurang mampu.[13]
2.    Ekspansi teritorial dan gerak populasi
Ekspansi tetiorial dan perpindahan penduduk yang membuktikan ciri fleksibelitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, tramigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk
3.    Komunikasi yang bebas
Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beragam akan memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman diantara mereka dan akan menghadapi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas secara efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang
4.    Pembagian kerja
Terjadinya mobilitas juga dipengaruhi tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan terspesialisasi maka mobilitas sosial akan menjadi lemah dan akan menyulitkan orang untuk bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi kerja menuntut ketermpilan khusus. Kondisi ini dapat memacu anggota masyarakatnya untuk lebih giat berusaha agar dapat memeroleh status sosial tersebut.

5.    Tingkat fertilitas yang berbeda
Kelompok masyarakat yang berlatar belakang tingkat sosial ekonomi dan pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat fertilitas lebih tinggi. Pada sisi lain pada masyarakat berlatar belaknag kelas sosial ekonomi lebih tinggi cenderung membatas tingkat reproduksi dan fertilitas. Dalam, hal ini orang yang berlatar belakang sosial ekonomi dan pendidikan lebih rendah mempunyai kesempatan untuk banyak reproduksi  dan memperbaiki kualitas keturunan, da sekaligus menunjukan mobilitas sosial bisa terjadi.
6.    Kemudahan dalam akses pendidikan
Jika kualitas pendidikan mudah didapat, mempermudah orang untuk melakukan mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi anak didik. Sebaliknya kesulitan dalam akses pendidikan bermutu, akan menjadikan orang yang tak memperoleh pendidikan yang bagus , kesulita untuk mengubah status, akibat dari kurangnya ilmu pengetahuan.
Suatu hal yang menadi perhatian penting dalam mobilitas sosial adalah structural dan non structural social mobility, merujuk kepada pergerakan-pergerakan yang terjadi sebelumnya oleh perubahan dalam bentuk perunbahan struktur pekerjaan dalam suatu masyarakat tertentu, kemudian terhadap pergerakan-pergerakan tertentu yang melibatkan perbahan-perubahan.
Suatu asumsi yang dapat dinyatakan dalalam terma ini adalah struktur pekerjaan merupakan suatu hal fundamental dalam menentukan bentuk dan mobilitas sosial dalam suatu masyarakat atau periode sejarah, yakni memproduksi mobilitas struktural dari perbedaan dalam instuisi pendidikan, motivasi individu, dan lainnya. Yakni sumber-sumber mobilitas nonstruktural. Tetapi meskipun kemudian kapasistas mempengaruhi level mobilitas mungkin dibatasi, faktor non struktural seperti pendidikan berbeda, mereka juga bertindak untuk adanya perubahan bagi struktur pekerjaan.
Ketika perubahan terjadi dalam struktur sosial dapat dilihat sebagai determinan utama dari kelanjutan/perkembangan peluang-peluang untuk mobilitas sosial. (1) institusi-institusi pendidikan bertindak sebagai terdepan dari mobilitas sosial yang terpenting dalam masyarakat modern, dan dapat mempengaruhi siapa yang melakukan mobilitas. (2) institusi-institusi pendidikan (3) juga perubahan-perubahan yang tampak pada struktur pendidikan.[14]     
Faktor yang dapat menghambat terjadinya mobilitas sosial dalam pendidikan,antar lain:
1.    Perbedaan kelas rasial
Seperi perbedaan ras kulit putih dan kulit hitam, pada masyarakat ras kulit hitam dilihat dari kondisi struktur sosial-ekonomi, pendidikan dan politik, mereka ada yang belum menempati posoisi sejajar dengan orang kulit putih. 
2.    Agama
Negara yang mayoritas penduduknya menganut agama tertentu, kadang kala mereka menganut agama tertentu mereka akan mendapat kesulitan untuk menduduki tempat terhormat dalam realita kehidupan berbangsa, walaupun secara resmi agama minoritas memiliki hak yang sama
3.    Diskriminasi kelas
Dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas sosial ke atas. Hal ini terbukti dengan adanya pembatas status organisasi tertentu denga berbagai syarat dan ketentuan, sehingga hanya sedikit orang mampu memperolehnya
4.    Kemiskinan
Kemiskinan dapat mengahambat seseorang untuk berkembang an mencapai status sosial tertentu.
5.    Perbedaan jenis kelamin
Dalam masyarakat jenis kelamin, juga berpengaruh terhadap presta    si, kekuasaan, status sosial dan kesempatan-kesempatan untuk meningkatkan status sosial. Dalam bidang pendidikan, jika ada siswa perempuan dan laki-laki yang lebih cerdas kadang kala perlakuan berbeda juga terjadi.
Dapat disimpulkan, bahwa mobilitas sosial merupakan perpindahan seorang atau sekelompok dari status sosial ke status sosial yang lain. mobilitas sosial dalam pendidikan adalah perpindahan seorang atau kelompok sosial dari status yang satu ke status yang lain dalam lingkup pendidikan. pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mencapai kedudukan dalam masyarakat. Dengan pendidikan, status sosial akan meningkat.
2. Determinasi Kebudayaan dalam Pendidikan
a)   Pengertian
Determinasi dalam kamus bahasa Indonesia artinya sesuatu yang menentukan, menetapkan.[15] Kebudayaan dilihat dari bahasa Belanda “cultuur”, dalam bahasa Inggrisnya “culture”, yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Dari segi arti ini dapat disimpulkan bahwa kebudayaan sebagai segala daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.[16]
Menurut Elwood menyatakan bahwa kebudayaan itu mencakup benda-benda material dan spiritual yang pada keduanya diperoleh dalam interaksi kelompok atau dipelajari kelompok dan juga mencakup kekuatan untuk menguasai alam dan dirinya sendiri. Koentjaraningrat menyatakan bahwa kebudayaan seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia, baik hasil manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.[17]  
Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan bahwa kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, cipta masyarakat. Karya masyarakat mengsilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabadikan untuk keperluan masyarakat.[18]
b)   Unsur-unsur kebudayaan
Setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu ketetapan yang bersifat sebagai kesatuan. Menurut Melviille J. Herskovits mengajukan empat unsur kebudayaan, yaitu :[19]
1.    Alat-alat teknologi
2.    Sistem ekonomi
3.    Keluarga
4.    Kekuasaan politik
Menurut Linton bagian-bagian kebudayaan itu adalah :
1.      Cultural universal,seperti mata pencarian, kesenian, agama, ilmu pengetahuan, kekerabatan dan sebagainya  
2.      Cultural activities, seumpama kegiatan-kegiatan budaya dari mata pencarian tadi terdapat pertanian, perindustrian, perternakana dan sebagainya
3.      Troits complexes, yaitu bagian-bagian dari cultural aktivicies tadi, dimana dari pertanian terdapat irigasi, pengolahan sawah, serta masa panen
4.      Traits, yaitu bagian-bagian dari Troits complexes tadi, misalnya dari sistem pengolahan cangkul terdapat bajak, guru cangkul, dan lain-lain
5.      Items, yaitu bagian-bagian didalam traits kebudayaan, misalnya dari bajak tadi terdapat bagian-bagianya  seperti mata bajak, tangkai bajak, dan sebagainya.[20]
c)    Jenis-jenis kebudayaan
1.      Kebudayaan material (kebendaan)
Adalah wujud kebudayaan yang berupa benda-benda konkret sebagai hasil karya manusia, seperti : rumah, mobil, candi, benda-benda hasil teknologi dan sebagainya.
2.      Kebudayaan nonmaterial (rohaniah)
Adalah wujud kebudayaan yang tidak berupa benda-benda konkret, yang merupakan hasil cipta dan rasa manusia, seperti :[21]
a.     Hasil cipta manusia, seperti filsafat serta ilmu penngetahuan, baik yang berwujud teori murni maupun yang telah disusun untuk diamalkan dalam kehidupan masyarakat
b.    Hasil rasa manusia, berwujud nilai-nilai da macam-macam norma kemasyarakatan yag perlu diciptakan untuk mengatur masalh-masalah sosial dalam arti luas, mencakup agama (religi, bukan wahyu), ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekpresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat.
d)   Determinasi Kebudayaan dalam Pendidikan
Pendidikan mempunyai banyak defenisi sepanjang waktu dan sepanjag banyak orang. Setiap definisi menunjukkan pandangan individu dalam lapangan pengetahuan masing-masing.
·      Bagi ahli biologi : pendidikan adalah adaptasi
·      Bagi ahli psikologi : pendidikan sinonim dengan belajar
·      Bagi ahli filsafat pendidikan lebih mencerminkan aliran-aliran yang dimilikinya dan sebagainya
Defenisi-defenisi tersebut berselang seling, ada yang bersifat ekstrem dan ada pula yang bersifat konservatif. Yang bersivat konsertif adalah memandang pendidikan sebagai suatu proses yang bersifat melindungi diri untuk menjaga status quo seseorang. Sedangkan yang bersifat progressif/ekstrim adalah untuk membantu individu dalam mengerjakan sesuatu hal yang lebih baik, dimana dia akan mengerjakan sesuatu cara.
Menurut Brown : pendidikan adalah proses pengendalian secara sadar dimana perubahan-perubahan didalam kelompok. Dari pandangan ini pendidikan adalah suatu proses yang dimulai dari lahir dan berlangsung sepanjang hidup. Pengertian pengendalian secara sadar ini berarti adnya tingkat-tingkat kesadaran dari tujuan yang hendak didapat.
Secara historis dan religios dikatakan bahwa pendidikan terjadi lebih dahulu dari kebudayaan. Hal ini dapat dijelaskan, tatkala nabi Adam A.S diturunkan ke bumi, telah di pesan oleh Allah SWT agar tidak makan buah khuldi demi.....dan seterusnya. Dari peristiwa ini tampak telah terjadi adanya pendidikan dari Tuhan kepada nabi adam, sebelum anak cucu nabi Adam menghasilkan kebudayaan, selanjutkan menhasilka pendidikan sebagai subkebudayaan.
Dari sisi lain disebutkan bahwa pedidikan merupaka bagian dari kebudayaan, dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Keduanya merupakan gejala dan faktor pelengkap yang penting dalam kehidupan manusia. Sebab manusia selain sebagai makhluk alam, juga berfungsi sebagai makhluk kebudayaan dan makhluk berfikir.
Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Bagaimana sederhananya peradaban suatu pendidikan. pendidikan telah ada sepanjang peradaban manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya. Tiada kehidupan masyarakat tanpa adanya kegiatan pendidikan.
Meskipun pendidikan merupakan gejala umum dalam setiap kehidupan masyarakat. Namun terlihat adanya perbedaan praktek kegiatan pendidikan dalam masyarakat masing-masing, yang disebabkan oleh adanya falsafah/pandangan hidupnya.
Praktek pendidikan yang dilakukan masyarakat zaman pertengahan sangat mementingkan norma kehidupan keagamaan sedang masyarakat zaman renaissance lebih mementingkan nilai-nilai kehidupan duniawi.
Pendidikan Indonesia pada zaman penjajahan kolonial Belanda juga menampakkan perbedaannya antara praktek kolonial hindia belanda dengan praktek pendidikan indonesia. Pendidikan kolonial hindia belanda menciptkan strata-strata masyarakat agar dapat menjadi ajang politik, sedangkan praktek pendidikan indonesia seperti taman siswa berdasarkan atas kebangsaan dan praktek  pendidikan pondok-pondok pesantren berdasarkan agama islam dan sebagainya.
Kini praktek pendidikan zaman indonesia merdeka berdasarkan falsafah dan asas pancasila, harus dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Setiap pendidik wajib mewujudkan falsafah pancasila dalam segala kegiatan pendidikan, menuju terwujudnya masyarakat yang sejahtera berdasarkan pancasila dalam segala kegiatan pendidikan menuju terwujudnya pendidikan masyarakat yang sejahtera berdasarkan pancasila.
Pengertian pendidikan telah banyak dikemukakan para pakar pendidikan, sebagai mana sampai pada pelaksanaan “pendidikan sepanjang hayat/hidup” (life long education). Bahkan Ary H Gunawan, berpendapat bahwa pendidikan berlangsung sejak pranatal sampai sesudah mati. Pendidikan seumur hidup dilaksanakan didalam lingkunga rumah tangga, sekolah, dan masyarakat, karena itu pendidikan adalah tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.    
Dalam GBHN 1993 dinyatakan bahwa :”pengembangan kebudayaan nasional diarahkan untuk memberikan wawasan budaya dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap dimensi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta ditujukan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia serta memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa. Kebudayaan nasional yang mencerminkan nilai luhur bangsa terus dipelihara, dibina, dan dikembangka dengan memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional, memperkukuh jiwa persatuan bangsa serta mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsa.
Dalam menembangkan kebudayaan bangsa perlu ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk memahami dan mengamalkan nilai budaya yag luhur dan beradab serta menyerap nilai budaya asing yang positif untuk memperkaya budaya bangsa. Perubahan pembaharuan struktur dan nilai budaya masyarakat yang sesuai dengan jati diri bangsa dan kebutuhan pembangunan terus digerakkan untuk mematapkan landasan spiritual, moral, dan etik pembangunan yang berdasarkan pancasila.
Pembaharuan merupakan bagian proses pembudayaan bangsa yang harus dipicu ke arah yang positif dan harus dijiwai sikap mawas diri, tahu diri, tenggang rasa, solidaritas sosial ekonomi, serta tanggung jawab yang tinggi terhadap kebersamaan dan kesetiakawanan dalam upaya memajukan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat, bangsa, negara dan negara indonesia. Penyelenggaraan harus mencegah dan menghilangkan melebarnya kesenjangan sosial ekonomi dan sikap eksklusif serta harus memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa bangsa dalam rangka memantapkan perwujudan wawasan nusantara dan ketahanan nasional.
Dengan munculnya berbagai kondisi masyarakat diberbagai dunia, beberapa kebudayaan telah berubah, walaupun tujuan umum pendidikan tida berubah, tetapi cara untuk mencapainya perlu disesuaikan dengan kebudayaan yang berubah juga memperhatikan kebutuhan yang sesuai dengan masyarakat.
C.  PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dapat disimpulkan, bahwa mobilitas sosial merupakan perpindahan seorang atau sekelompok dari status sosial ke status sosial yang lain. mobilitas sosial dalam pendidikan adalah perpindahan seorang atau kelompok sosial dari status yang satu ke status yang lain dalam lingkup pendidikan. pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mencapai kedudukan dalam masyarakat. Dengan pendidikan, status sosial akan meningkat.

2.      Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami merasa masih ada terdapat kesalahan baik dalam penyusunan maupun dalam pemakaian bahasa kami mohon sarannya agar dapat dijadikan pelajaran untuk masa- masa yang akan datang.
D.  DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali Pers, 2011)
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Ary. H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000)
David Jarry dan Julia Jary, Dictionary of Sociology, (The Harper Collins Publisher)
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya : Lima Bintang, Tth)
Koentjaningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia dalam pembangunan, (Jakarta:Djambatan, 1971)
Koentjaningrat, Pengantar Antropologi I, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996)
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, ( Jakarta : Bumi Aksara, 1995)
Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiolog, (Jakarta : Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964)
Soerjono Soekanto, Sosiologi Sebagai Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009)
Philip Robinson, Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali, 1986)
Zainimal Said, Sosiologi Pendidikan (Padang, IAIN IB Press, 2007)








[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Sebagai Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009) h. 219
[2] Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali Pers, 2011) h. 195
[3] Ary. H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000) h. 43
[4] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, ( Jakarta : Bumi Aksara, 1995), h. 38
[5]Soerjono Soekanto, Op Cit, h. 223
[6] Ibid , h. 44
[7]Soerjono Soekanto, Op Cit, h. 276-277
[8] Lihat (http://id.wikipedia.org/wiki/gerak_sosial,  Diakses pada tanggal 20/12/2012)
[9] Ary. H. Gunawan, Op Cit h. 44
[10] Philip Robinson, Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rajawali, 1986) h. 286
[11] Abdullah Idi, Op Cit, h. 201
[13] Abdullah Idi, Op Cit, h. 201
[14] David Jarry dan Julia Jary, Dictionary of Sociology, (The Harper Collins Publisher), 1991, h. 454-455
[15] Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya : Lima Bintang, Tth) h.1001
[16] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h.58
[17] Koentjaningrat, Pengantar Antropologi I, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 72
[18] Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiolog, (Jakarta : Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964) h. 113
[19] Koentjaningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia dalam pembangunan, (Jakarta:Djambatan, 1971) h. 78
[20] Zainimal Said, Sosiologi Pendidikan (Padang, IAIN IB Press, 2007) h. 39
[21] Ary. H. Gunawan, Op Cit h. 18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar